Rabu, 14 Januari 2009

MEMBANGUN MASYARAKAT INDONESIA KREATIF

Kita perhatikan negara yang maju di dunia dewasa ini dibidang ekonomi, teknologi dan seni, seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Australia, Korea Selatan, India dan negara maju lainnya. Mereka semua bangsa yang kreatif.
Mereka menghambil hikmah dari perbedaan (bersilang kayu dalam tungku, maka apinya hidup), selalu mempalajari alam dan segala kejadian (alam terkembang jadi guru), mereka berfikir kedepan, mereka mampu melihat tanda-tanda perubahan akan terjadi sesuatu atau proaktif (cewang di langit tanda akan panas, mendung dihulu tanda akan hujan), cepat mengambil keputusan dari sedikit informasi ( bekelibat ikan dalam air, tahu jantan betinanya), kalau bertemu masalah atau hambatan dijadikan tantangan yang harus ditaklukan ( tidak bisa belayar persahu disungai, dibukit didorong, asal maksud sampai), tidak pernah mengelu dengan masalah yang menimpa, masalah yang menimpa menjadi tantangan baru dalam berfikir dan bertindak (kalau ada masalah mereka tidak mengatakan “mati denai, tetapi mereka mengatakan “apa akal”). Semua karya kreatif dan teman berkreasi tidak dimatikan dengan cemooh, tetapi didorong. Setiap hasil penelitian yang menyimpang dari yang diharap tidak dibuang dengan alasan error, tetapi diulang dan didalami penyimpangan tersebut, karena dari hasil yang menyimpang bisa menjadi temuan baru. Mereka bangsa yang selalu belajar menurut mereka memakai istilah long life education, menurut kita belajar dari ayunan sampai keliang lahat. Mereka belajar kepada yang lebih pandai dibidangnya (berguru ke nan pandai) yang pandai tersebut tidak perlu melihat apakah ia binatang, tumbuhan, status sosial, profesi, atau embel-embel akademi), kalau orang tersebut lebih pandai dari dirinya, mereka belajar. Karena mereka berkeyakinan tiap manusia punya kelebihan dan kekurangan, belajar dari kelebihan orang lain, untuk mengurangi kekurangan kita. Mereka mengambil hikmah dari setiap peristiwa, kendati peristiwa itu menyakitkan, maka terjadi lonjakan teknologi sesudah perang, keluar berbagai teori ekonomi, sesudah krisis ekonomi, terbit karya sastra besar sesudah kehidupan tertetekan. Mereka dapat memanfaat sumber daya manusia bersasarkan kapabilitas, kompentensinya (yang buta pelepas meriam, yang buta peniup lesung, yang lumpuh penghalau burung, yang rajin disuruh-suruh, yang pandai tempat bertanya), tidak atas dasar kolusi dan nepotisme.
Saya tidak berpretensi untuk memuji-muji bangsa lain secara berlebihan, karena membuat kita rendah diri, orang rendah diri akan dijajah oleh orang lain. Orang rendah diri tidak bisa berkreasi, orang rendah diri tidak bisa berbuat, karena takut salah. Orang takut salah tidak pernah berbuat, dia akan tercenung tiap hari disudut kamar yang suram.
Yang ingin saya katakan nenek moyang kita, budaya kita asli kita adalah budaya masa lalu budaya kreatif sehingga bukti sejarah mengatakan kerajaan di nusantara bisa mengusai wilayah yang luas di Asia Tenggara sampai Melanesia. Menghasilkan karya arsitektur yang menkagumkan, karya sastra yang bisa dinikmati sampai sekarang.
Tetapi kita larut dengan kejayaan masa lalu dengan mengagung-agungkan, keris sebagai karya metalurgi yang tinggi masa lalu diagungkan dan dikeramati, tetapi tidak dipelajari teknologi metalurginya. Candi, mesjid tua dikagumi dan disykaralkan, tanpa dipelajari teknologinya. Orang-orangnya diagung-agungkan dengan sangat tinggi, tanpa dipelajari metoda dan tekniknya menemukan sesuatu, melahirkan karya sastra, peralatan. Tidak mempelajari kiat-kiat memimpin sampai strategi perang.
Budaya lama yang kreatif tersebut, sekarang dikatakan sesuatu yang kuno, perlu dimusimkan, baik bendanya, semangat dan teknologinya, dan malah dikatakan sesuatu yang kuno, tidak perlu dipakai, dikaji dan dihargai layak, kalau dihargai sering salah kaprah. Kita jadi “malin kundang” moderen yang mendurhakai “ibu pertiwi”.
Sedang bangsa yang maju, kreatif, inovatif, proaktif tersebut melakukan apa yang diwariskan oleh nenek moyang kita, kita tidak maju karena kita durhaka terhadap nenek moyang kita, dengan menghina kearifan-kearifannya dengan kata-kata kuno. Kita dikutuk jadi “manusia batu” yang orang berlari kencang kita tetap berjalan ditempat. Kita menjadi konsumen hasil karya kreatif bangsa lain, kita banga dengan dengan mental dan pikiran kita dijajah barat dan orang asing. Kalaulah pejuang kita dulu era kebangkitan nasioanal, pra kemerdekan dan awal kemerdekaan, mungkin Indonesia tidak jadi merdeka, atau kemerdekaan setahun jagung. Saatnya kita bangkit mereformasi diri, masyarakat dan bangsa ( membangkit batang terendam, lapuk-lapuk dikajangi, usang-usang dibarui), itu reformasi ajaran nenek moyang, tidak membuat yang baru sama sekali, seperti format ulang yang digunakan pada ilmu komputer seperti keadaan sekarang.
Kreativitas, tidak bisa diajarkan tetapi didikan, bakat kratif pada hakikatnya sudah ada semenjak bayi, tetapi demi kepentingan orang dewasa bakat kreatif itu dibunuh pelan-pelan dengan “over protective” kepada anak, dilarang bergaul dengan anak tetangga, membelikan mainan instan, melarang ini itu demi gengsi dan keindahan rumah, takut barang-barang kotor dan alasan lainnya yang tidak rasional.
Pembunuhan kedua masa sekolah, baik dirumah maupun disekolah. Semua pelajaran bisa mendidik kreativitas, yang utama adalah menggambar/melukis, prakarya, sastra. Terapi matematika, fisika, biologi, kimia, sejarah bisa digunakan untuk memndidik kreativitas, sekurangnya tidak membunuh bakat kreatif anak didik. Sementara guru ada guru matematik yang marah kepada murid karena menjawab soal tidak sama dengan rumus yang diajarkan, ada sementara guru senang menerima hasil prakarya yang dibeli di pasar. Marah kalau murid bertanya, yang ia sulit menjawab, atau membunuh karakhter murid dengan kata-kata pertanyan goblok, statemen orang pandir dan lain sebagainya. Tidak mau murid berbeda dari guru. Murid dianggap nakal atau menguji guru cap ini sangat membunuh karakhter murid.
Dewasa ini dengan kemajuan teknologi informasi, tidak tertutup kemungkinan murid lebih pintar dan trampil dari guru.
Pada masa lalu sampai pertegahan tahun 70-an, kesempatan kerja masih luas, pendapat guru sangat terbatas dan masih “Oemar Bakri”. Orang yang menjadi guru dan bertahan menjadi guru adalah orang yang berbakat dan punya cita-cita untuk menjadi pendidik, tidak peduli dengan pendapatan. Mereka pendidik sejati dengan mengerahkan kemampuanya (pisik, hati dan otak) untuk mendidik dan mengajar. Sekolah formal tidak tinggi, tepi semua sumber daya yang ada padanya dikerah untuk muridnya menjadi murid yang pandai dan cerdas, tanpa pamrih. Pelajaran tambahan di luar waktu sekolah, gratis tidak dibayar sama sekali baik oleh murid atau sekolah. Mereka malu kalau muridnya tidak lulus, malu kalau muridnya mencontek, malu kalau muridnya tidak melanjutkan pendidikan.
Kesulitan lapangan kerja, mudahnya mengikuti pendidikan guru, kebutuhan hidup bertambah, kehidupan melai mengarah kepada materialistis, jalan pintas untuk bekerja jadi guru, sehingga ada guru yang tidak berbakat, menjadi guru, pendidikan mulai mundur. Untuk menjadi guru tidak selesai otak dan fisik serta ilmu pengetahuan yang prima, tetapi bakat sangat menentukan. Profesi guru atau dosen punya kriteria tertentu, beda dengan profesi lain, maka sebalum masuk pendidikan guru atau rekrumen guru, dilakukan psiko-test, sehingga terjaring guru yang pendidik, bikan hanya guru yang pengajar, maka kreativitas murid, kreativitas anak bangsa terbangun.
Di perguruan tinggi, dibangun lagi kreativitas. Pada pertengahan tahun 70-an diluncurkan program mencetak “sarjana” sebabtaknya, maka dipercepat kelulusan untuk menjadi sarjana (S1), dengan sistem SKS, dapat S1 bila menyelesaikan sekian SKS, sekali menghasilkan karya ilmiah (skripsi). Dihilangkan “sarjana muda” (BChk, BA, BBA, BSc,BEc, BAe dll). Kalau dibanding kalau dikonversi SKS sarjana muda sebelum pertengan tahun 70-an dengan S1 itu sama, kalau tidak lebih baik. Sarjana waktu itu (SH, Drs, Ir, dr) waktu itu setara atau lebih tinggi dibanding S2 sekarang. Dipemerintah lulusan pendidkan instan tersebut dihargai sama dengan sarjana sebelum tahun 70-an sama sama IIIA, atau lebih tinggi dari sarjana muda. Dalam perkuliahah, tidak terbina kreativitas karena kejar tayang, S1 hanya satu kali meneliti, sangat terbatas waktu menggunakan laboratorium, diskusi, seminar selama diperguruan tinggi. S1 yang smart bukan karena sistem yang baik, tetapi bibit yang baik.
Apalagi banyaknya ijazah palsu, ijazah asli tapi palsu (ijazah tembak) atau ijazah kebut-kebutan, kuliah sabtu sampai malam, minggu setengah hari, dua tahun tamat dapat ijazah S1, yang tarbangun kreasinya mencontek, mendekati dosen dengan ilmu pendekatan, ilmu upah-mengupah skripsi, mensiasati ujian, kalau perlu belajar sambi ujian, waktu ujian sarjana tanya sedikit, jawab sedikit, betul salah sama saja, nasehat dan arahan penguji yang banyak (belajar dalam ujian), yang penting lulus, pakai toga, foto-foto penting, kalau sudah menjadi pegawai negeri minta penyesuaian pangkat, kalau caleg, pampangan di papan kampanye.
Kreativitasya yang tinggi adalah kreativitas yang negatif, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, hal ini harus bisa dihentikan.
Dimasyarakat, sering membunuh kreator, karena sebagian manyarakat kita terjebak menjadi “malin kundang modern” tidak menghargai karya anak bangsa, malah mencemooh karya anak negeri berkualitas rendah, lebih senang mensitir buku atau hasil peneliti asing. Kita seharunya kalau mau membangung kreativitas bangsa adalah menganut “baik atau buruk adalah karya bangsaku” “bangga dan menggunakan karya bangsa sendiri” “mengkritik kreator secara proporsonal dan santun” sehingga keritik menjadi suplement bukan racun yang merusak dan membunuh. Menghilangkan kebiasaan mencemooh, skeptis, sinis, mengejek karya bangsa sendiri. Kalau tidak mau bangsa Indonesia, dijajah terus menerus, secara ekonomi, budaya, sosial, dan psiklogi sekarang dan pada masa yang akan datang.
Kita hargai perbedaan, kita bangun kreativitas, inovasi, berpikir dan berindak proaktif, alaternati, indonesia akan menguasai jagad kelak, semoga. (Jambi, 140109)

2 komentar:

  1. mudah2an ada banyak guru yang membaca artikel ini dan mampu mengetuk hati mereka agar meningkatkan kualitasnya sebagai guru.
    mudah2an pendidikan indonesia benar2 berada di tangan guru2 yang kreatif dan mampu menciptakan dan merangsang terciptanya kreativitas

    BalasHapus
  2. Terima kasih komentar anda, memberi semangat untuk saya menulis di blog ini

    BalasHapus