Rabu, 14 Januari 2009

KRITIKUS ATAU TUKANG KRITIK

Pada masa lalu kita mengenal kritikus dibidang sastra yaitu almarhum HB Yasin. Kritiknya sangat ditunggu oleh sastrawan, penikmat sastra maupun ahli sastra. Sastrawan merasa tersanjung kalau dikritik berliu, merasa karya bermakna, dan sastra berkembang dimasanya, karena almarhum memang ahli dibidangnya, menkritik dengan santun, mengkritik dengan memberikan solusi, mengkritik tidak membunuh karakhter orang yang dikritik, kritik yang membangun.
Kalau kita perhatikan sekarang melalui media massa elektronik dan cetak maupun melalui internet, banyak sekali “kritik” di berbagai bidang atau kegiatan oleh sangat banyak “tukang kritik” dan sedikit kritikus. Tiap waktu kita disuguhkan “kritik” dari pagi sampai malam dan sampai pagi lagi untuk berbagai bidang sampai bosan dan menyebalkan dan membuat hidup tidak nyaman.
“Kritik” yang disampaikan lebih pada kehendak/kepentingan pribadi dari yang bersangkutan, tidak melihat masalah secara utuh atau sepotong-sepotong apakah disengaja atau karena tidak tahu. Kritik yang sangat pedas melebihi pedasnya cabe rawit, yang bisa membuat mencret orang yang dikritik atau dengan kata lain membunuh kreativitas, menghilangkan orang berani untuk berbuat, dan bisa memprovokasi orang lain.
Kalau diperhatikan si tukang kritik tersebut, tidak pula orang bodoh, banyak diantaranya, pangkal dan ujung namanya sudah ada tambahan gelar akademik, jabatanya seabrek-abrek baik di masyarakat maupun negara. Mereka si tukang kritik berlagak serba tahu, sebenarnya sedikit yang tahu, yang dipamerkan sebanarnya ketidak tahuannya, tetapi orang lain bisa menjadi rusak. Kalau dicermati betuk, ia mengkritik sambil memamer kebodohan dirinya.
Kritikus ada orang ahli dan berpengalaman, sehingga ia dapat melihat suatu masalah atau kejadian dari banyak aspek, dan semua kejanggalan dapat diungkap beserta saran perbaikan. Kritikus seorang komunikator yang baik, sehingga dengan baik pula menyampaikan pikiran, gagasan dan rasa kepada yang dikritik, sehingga maksud dari kritik itu sampai, yang dikritik berubah menjadi lebih baik dan tidak berang, malah berterima kasih. Buat apa kritik kalau orang yang dikritik marah, benci, tidak berkarya, serta orang lain terprovokasi.
Kritik yang baik maksud sampai, orang senang dan malah berterima kasih. Itulah yang dilakukan kritikus besar kita dibidang sastra. Kritikus besar kita di dibidang ekonomi Soemitro Djojohadikusumo, MT Zen, Iskandar Alisyahbana, Andi Hakim Nasution, Johannes, dan beberapa yang lain dibidang sain dan teknologi, Buya Hamka, AR Syafruddin, Hasyim Musadi, Safei Maarif dibidang politik, sosial keagamaan. Kritik yang sejuk dimasyarakat.
Dewasa ini, atas nama demokrasi, kebebasan mengeluarkan pendapat yang lahir bukan kritikus seperti beliau diatas, tetapi yang banyak berkoar-koar dimedia masa adalah “tukang kritik” yang membuat orang gelisah karena mengkritik tidak meliahat dari banyak sisi, tidak ada solusi, menggunakan bahasa yang tidak santun, ada kepentingan pribadi atau kelompok yang terselubung artinya mengkritik dengan tidak ikhlas. Mengkritik pada seseorang tersebut bisa berbisik, tetapi menggunakan media masa untuk berteriak.
Kalau “tukang kritik” masih sangat banyak berkiprah di jagat Indonesia ini, pemerintah akan salalu dibuat salah tingkah, seniman stagnan, kreativitas terpasung, sain dan teknologi tidak berkembang, olah raga banyak mundur dari pada maju, menciptakan budaya kekerasan, ketertutupan, semua orang menjadi tebal kuping, karena kupingnya tuli, hati dan otak beku karena diteriaki setiap hari dengan keras dengan pilihan kata yang tidak enak didengar, bangsa kita mundur diberbagai hal kelak, semoga tidak terjadi.
Kritik yang baik itu tidak perlu dengan pilihan kata yang menyakitkan, tetapi argumentatif yang lengkap, kata-kata yang santun, saat, suasana, media yang tepat akan lebih efektif. Itulah yang dilakukan kritukus besar kita. Masih ada kritikus seperti itu tidak banyak dan tidak populer.
Semoga kritik lebih berkembang dimasa yang akan datang oleh kritikus yang arif dan ikhlas untuk kepentingan masyarakat luas, bangsa dan negaradan sebaliknya “tukang kritik” taubat dan berbenah diri menjadi kritikus. [Jambi, 140109]

2 komentar:

  1. mungkin karena kritikus jaman sekarang belum mampu berkarya lebih dulu sebelum jadi kritikus. gelar pendidikan ga menjamin seseorang punya karya besar. bisa jadi gelar akademik hanya diperoleh di bangku formal tapi karya nyata untuk bangsa belum ada.

    contoh2 kritikus besar yang kamu tulis di atas, apa pun bidang mereka, mereka adalah pelaku yang pernah menghasilkan karya besar sebelumnya sehingga kritikan mereka kemudian benar2 ditujukan untuk membangun bangsa

    BalasHapus
  2. Kita ambil pelajaran yang baik dari siapa saja, terima kasih atas komentar anda

    BalasHapus